Speakout14

  • 07:30:40 pm on Februari 2, 2011 | 0
    Tag:,


    Sungguh miris melihat nasib persepakbolaan Indonesia; berjalan tanpa tujuan akibat nahkodanya tidak jelas juntrungannya. Penyebab terbesarnya adalah kacaunya kehidupan sepakbola yang dibuat “tidak beradab” ini. Selain suap-menyuap, kasus “cukong” judi mulai harum semerbak, setelah redup pada abad ke-21 ini.

    Sebelumnya, kasus perjudian dengan uang miliaran dan pemain kelas kakap ini banyak terjadi di tahun 80-an dan 90-an, sehingga Galatama bubar. Namun, kasus ini “diredam” dan seolah lenyap begitu saja, padahal jamur-jamurnya masih tetap tumbuh dan berkembang; menjadi racun tersendiri di tubuh persepakbolaan kita.

    Kini muncul lagi kasus suap besar, kali ini melibatkan oknum pejabat teras PSSI. Tentu saja ini mencoreng kehormatan bangsa dan negara. Rakyat tentu marah. Namun, pemerintah belum melakukan langkah konkrit terkait hal ini.

    Begini ceritanya: ketika Indonesia kalah 0-3 dari Malaysia di Bukit Jalil, Kuala Lumpur, ada indikasi pejabat teras PSSI—sebut saja XX dan XXX—menginstruksikan pemain kita bermain “tidak biasanya”, laser dan bubuk gatal dijadikan alasan teknis yang menutupi kebohongan hebat ini. Dua pejabat teras ini masuk ke lapangan saat pertandingan babak kedua berlangsung, padahal hal ini dilarang.

    Menit 50-an pertandingan diminta diberhentikan oleh Indonesia karena gangguan non-teknis pada pemain, padahal tidak demikian. Pendukung Malaysia makin bergemuruh, sedangkan Indonesia menyoraki kedua pejabat yang masuk ke dalam lapangan dan mengobrol dengan wasit. Indonesia, yang bermain cukup baik sebagai tim yang bertahan—bahkan mendominasi jalannya pertandingan—terlihat sangat santai setelah diberi arahan oleh sang “pelatih bayangan”.

    Akhirnya, menit ke-60, pertandingan dilanjutkan. Benar saja, permainan Indonesia malah berbalik 180 derajat. Tertekan, bola sering lepas, pemain tidak fokus, sehingga Malaysia berhasil menceploskan bola ke gawang kita pada menit ke-61. Semakin kendor, Timnas dihajar 0-3.

    Hal ini makin menghebohkan ketika seorang pegawai pajak di lingkungan Kementerian Keuangan RI, dia menamakan dirinya Eli Cohen, mengirim surat terbuka ke Presiden. Isinya sebagai berikut:

    From: eli cohen

    Date: Sun, 30 Jan 2011 14:36:16 +0700

    To: ; ;

    Subject: Mohon Penyelidikan Skandal Suap saat Piala AFF di Malaysia

    Kepada Yth. Bapak Susilo Bambang Yudhoyono Presiden Republik Indonesia

    Di Jakarta

    Dengan Hormat, Perkenalkan nama saya Eli Cohen, pegawai pajak dilingkungan kementrian Keuangan Republik Indonesia. Semoga Bapak Presiden dalam keadaan sehat selalu.

    Minggu ini saya membaca majalah tempo, yang mengangkat tema khusus soal PSSI. Saya ingin menyampaikan informasi terkait dengan apa yang saya dengar dari salah satu wajib pajak yang saya periksa dan kebetulan adalah pengurus PSSI (maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya) . Dari testimony yang disampaikan ternyata sangat mengejutkan yaitu adanya dugaan skandal suap yang terjadi dalam Final Piala AFF yang dilangsungkan di Malaysia.

    Disampaikan bahwa kekalahan tim sepak bola Indonesia dari tuan rumah Malaysia saat itu adalah sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Hal ini terjadi karena adanya permainan atau skandal suap yang dilakukan oleh Bandar Judi di Malaysia dengan petinggi penting di PSSI yaitu XX dan XXX (ia menulis inisial dua nama, Red).

    Dari kekalahan tim Indonesia ini baik Bandar judi maupun 2 orang oknum PSSI ini meraup untung puluhan miliar rupiah.

    Informasi dari kawan saya, saat dikamar ganti dua orang oknum PSSI ini masuk ke ruang ganti pemain (menurut aturan resmi seharusnya hal ini dilarang) untuk memberikan instruksi kepada oknum pemain. Insiden “laser” dinilai sebagai salah satu desain dan pemicunya untuk mematahkan semangat bertanding.

    Keuntungan yang diperoleh oleh dua oknum ini dari Bandar judi ini digunakan untuk kepentingan kongres PSSI yang dilangsungkan pada tahun ini. Uang tersebut untuk menyuap peserta kongres agar memilih XX kembali sebagai Ketua Umum PSSI pada periode berikutnya.

    Saya bukan penggemar sepak bola, namun sebagai seorang nasionalis dan cinta tanah air saya sangat marah atas informasi ini. Nasionalisme kita seakan sudah dijual kepada bandar judi untuk kepentingan pribadi oleh oknum PSSI yang tidak bertanggung jawab.

    Oleh karenanya saya meminta Bapak Presiden untuk melakukan penyelidikan atas skandal suap yang sangat memalukan ini.

    Semoga Tuhan memberkati Negara ini.

    Hormat Kami, Eli Cohen Pegawai Pajak

    Tembusan 1. Menteri Olah Raga 2. Ketua KPK 3. Ketua DPR 4. Ketua KONI

    Memang, keabsahan surat ini masih dipertanyakan, namun ini menunjukkan bahwa ada indikasi bahwa kekalahan Timnas berasal dari “permainan kotor” oknum bandar judi. Kita tidak bisa menyalahkan intimidasi dari lawan juga, jika pada akhirnya bandar judi bahkan mengatur hal sekecil itu.

    Sudah kewajiban PSSI untuk memberantas perjudian yang menodai kesucian permainan. Namun ironis pemain utamanya justru dari dalam tubuh PSSI. Bila begini adanya, maka kapan persepakbolaan Indonesia maju? Akankah Indonesia menjadi lahan subur dari sindikat perjudian besar—bahkan internasional, dan menjadi Kerajaan Cukong? Kita lihat saja perkembangannya.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: